Operasi Terjun Payung Pertama Indonesia Ternyata di Lakukan di Kalimantan

Operasi ini pertama kali dilakukan ke Kalimantan dan dipimpin langsung oleh pemuda asal Kalimantan juga, yang tidak lain adalah Tjilik Riwut. Bagaimana kisahnya?



Setelah proklamasi kemerdekaan 1945, Belanda masih belum puas dengan hasratnya menguasai Republik. Agresi militer Belanda I, dilancarkan pada 21 Juli 1947. Belanda mulai melakukan blokade, terutama wilayah laut yang menjadi akses penghubung antar pulau. Putusnya akses ke berbagai wilayah, membuat Gusti Pangeran Muhammad Noor, yang saat itu adalah Gubernur Kalimantan, khawatir.

TONTON INI BAGI YANG MALAS BACA JIKA INGIN LEBIH MEMAHAMI "OPERASI TERJUN PAYUNG PERTAMA DI INDONESIA "



Jadi, dulu Kalimantan masih menjadi 1 provinsi, sebelum akhirnya, pada 1957, terpecah menjadi Kalsel, Kaltim, Kalbar, dan Kalteng. Saat itu, pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno, Provinsi Kalimantan terpusat di Yogyakarta, dan dipimpin oleh Gusti Pangeran Muhammad Noor. Beliau adalah orang asli Kalimantan, yang lahir di Martapura, Kalimantan Selatan.

Beliau, akhirnya mengirim surat ke Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Komodor Surjadi Soerjadarma, agar para pemuda Republiken dikirim ke Kalimantan.

Republiken adalah para penganut ketatanegaraan republik.

Upaya ini dirasa perlu dilakukan untuk menjaga agar pulau-pulau di Nusantara, termasuk Kalimantan, tidak jatuh ke tangan Belanda. Sejak kemerdekaan, para pejuang melakukan perlawanan secara swadaya untuk mengusir Belanda. Mereka berjuang dengan perlengkapan seadanya. Blokade agresi militer ini menyebabkan bantuan dari pusat terblokir oleh penjagaan Belanda yang ketat.

Pada Agresi Belanda I, blokade dilakukan di Pulau Jawa dan Sumatera, dimana, kedua pulau ini sangat vital bagi Republik, terutama soal persenjataan dan ekonomi.

Pangeran Mohammad Noor, berpikir bahwa, satu-satunya cara untuk memberikan support ke Kalimantan, hanya melalui udara. Dan, Isi surat beliau, intinya adalah meminta bantuan AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) untuk melatih para pemuda asal Kalimantan khususnya, untuk diterjunkan kembali ke Kalimantan, membantu saudaranya berjuang mengusir Belanda.

Secara khusus, tujuan dari operasi ini adalah untuk membangun tim inti gerilya Suku Dayak di Sepan Biha, membuka stasiun pemancar induk, sebagai pusat koordinasi, dan membuat landasan untuk tempat pendaratan penerjunan selanjutnya.

Sepan Biha merupakan salah satu lapangan yang ada di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

Permintaan tersebut disetujui oleh pimpinan AURI, dan sejak saat it, mereka langsung merekrut orang-orang untuk dilatih terjun payung. Saat itu ada sekitar 60 orang yang direkrut berasal dari Kalimantan, 12 orang dari Sulawesi, Jawa dan Madura. 


Untuk misi yang bisa disebut sebagai operasi intelijen ini, Tjilik Riwut yang merupakan pemuda asal Kalimantan dimiliterkan dan ditugaskan untuk memimpin operasi ini, sekaligus menjadi penunjuk jalan bagi penerjun, dan beliau diberi pangkat mayor.

Tjilik Riwut adalah mantan koresponden surat kabar Pemandangan dan pemimpin redaksi Soeara Pakat milik Pakat Dayak. Beliau juga pernah menjadi pegawai kantor Gubernur Kalimantan di Yogyakarta.

Latihan ini dilaksanakan di Yogyakarta, tepatnya di Wonocatur dan Maguwo. Ini merupakan latihan singkat, yang dilaksanakan kurang lebih 2 bulan dan hanya dilakukan di darat.

Tidak ada latihan terjun langsung dari udara.

Muatan latihan ini hanya sebatas teori, seperti SOP pendaratan dan prakteknya hanya melipat parasut, membuka, dan menutup parasut.

Perlu sobat ketahui juga, waktu itu, kita belum ada parasut, dan yang digunakan untuk latihan dan penerjunan adalah parasut sisa dari Jepang dan Sekutu.

Setelah kurang lebih 2 bulan berlatih, dari total orang yang ikut, hanya 14 orang yang diikutsertakan dalam operasi ini, dimana 12 orang dari Kalimantan, dan 2 orang dari AURI.

Tibalah pada 01.30 dini hari, tanggal 17 Oktober 1947, pasukan penerjun yang diberi nama MN 1001 ini, siap diberangkatkan menuju lokasi menggunakan pesawat Dakota RI-002.

Pasukan waktu itu diberikan support langsung oleh Halim Perdanakusuma, berupa seragam, sepatu, bahkan senjata api.

Pukul 05.30, pesawat telah berada di sekitaran pantai selatan Kalimantan. Pilot terus berkoordinasi dengan Tjilik Riwut tentang lokasi pendaratan. Mereka masih berputar hingga pukul 07.00 pagi.

Dibalik bukit yang dimaksud sebagai lokasi pendaratan, tidak terlihat kampung-kampung seperti yang diperkirakan, hanya nampak hutan belantara, Tjilik Riwut pun sempat ragu-ragu.

Tidak lama setelah itu, bel berbunyi, tanda operasi penerjunan telah siap dilakukan. Pasukan pun langsung melompat dari pesawat, namun, sayangnya, ada 1 orang yang tidak terjun karena takut dan membuat Tjilik Riwut marah besar.

Beberapa lama terombang-ambing di udara, akhirnya pasukan mendarat dengan berbagai kondisi. Beberapa diantaranya ada yang tersangkut di pohon. Namun, yang pasti mereka semua terpencar. 


Ternyata, mereka tidak mendarat di Sepanbiha, yang merupakan tujuan pendaratan, melainkan di dekat Kampung Sambi, di Sungai Seruan, Rantau Pulut, Kotawaringin.

M. Dachlan, salah satu penerjun, yang tersangkut di pohon setelah pendaratan didatangi 5 orang penduduk. Dachlan awalnya takut, namun beberapa lama berbincang, akhirnya dia berhasil mengakrabkan diri dengan mereka.

Sore hari, 11 orang berhasil berkumpul kembali. Mereka berada di Desa Sambi.

Berdasarkan cerita, waktu itu, di Desa Sambi hanya tersisa 12 KK yang masih menetap.

Keesokan harinya, 2 orang menyusul, dan lengkaplah sudah jumlah pasukan tersebut. Setelah itu, mereka mengumpulkan perbekalan yang tertinggal di hutan untuk melanjutkan misi seperti yang ditugaskan.

Sebelum itu, Morawi, salah satu penerjun diberi tugas khusus untuk memata-matai Belanda yang mungkin saja tahu tentang operasi penerjunan ini. Jadi, mereka tinggal 12 orang.

Akhirnya mulailah aksi survival para penerjun, menelusuri hutan belantara Kalimantan waktu itu. 1 minggu setelahnya, mereka tiba di salah satu perkampungan, yaitu Penahan. Pada waktu yang sama pula, Belanda yang telah mengetahui operasi ini, tiba di lokasi pendaratan para penerjun sebelumnya, yaitu Desa Sambi.

Belanda waktu itu langsung memburu para penerjun dan telah mengetahui arah perjalanan penerjun. Selama kurang lebih 1 bulan mereka melakukan aksi kejar-kejaran di dalam hutan, untungnya, para penerjun lolos dan tiba di Rantau Pulut, pada 17 November 1947.

Mereka pun langsung bertemu dengan tokoh masyarakat di sana. Namun, sayangnya, bukannya memberi pertolongan, mereka malah diminta menyerah pada militer Belanda. Para penerjun khawatir adanya pengkhianatan, besoknya, mereka bergegas berangkat lagi ke arah kampung Mujang.

Untuk sampai di sana, mereka menempuh perjalanan 3 hari. Dan, akhirnya bertemu dengan Lurah Desa Mujang. Mereka memutuskan untuk beristirahat lebih lama di sana, karena kondisi semakin lemah, dan 3 diantaranya, Darius, Soejoto, dan Immanuel, jatuh sakit.

23 November 1947, kondisi semakin memburuk. Rumah Lurah tempat mereka menginap, tiba-tiba telah dikepung oleh pasukan Belanda.

Belanda pun langsung menghujani mereka dengan tembakan. Seketika itu pula, mereka sadar, bahwa Lurah Majang tidak dapat dipercaya.

Akibat insiden ini, 2 orang penerjun, yaitu Iskandar dan Kosasih meninggal di tempat. Sisa pasukan kemudian lari kocar-kacir dan terpencar. Harry Sumantri yang terkena tembakan, tidak dapat bertahan dan meninggal di tengah pelarian tersebut.

Akhirnya, mereka kembali masuk ke hutan untuk menghindari pengejaran Belanda. Pelarian penuh derita, hujan turun deras, dan mereka bertahan tanpa perbekalan.

Meski telah berusaha keras, namun sisa pasukan yang berhasil kabur, tertangkap oleh Belanda secara terpisah, masing-masing pada tanggal 29 November dan 7 Desember.

Mereka kemudian dibawa ke Jakarta untuk ditahan dan diadili di Banjarmasin pada Maret 1948.

Hukuman mereka bervariasi, dari 3 tahun hingga 16 tahun.

Menurut catatan, jika saja mereka tidak dikhianati, misi ini pasti berhasil.

Aksi penerjunan ini, meski tidak berhasil, namun, tetap dikenang dalam sejarah Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Paskhas AU). Tanggal penerjunan Dachlan dan kawan-kawan, 17 Oktober 1947, dijadikan hari jadi pasukan khusus TNI AU.

Belum ada Komentar untuk "Operasi Terjun Payung Pertama Indonesia Ternyata di Lakukan di Kalimantan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel