Republik di Belantara Kalimantan?
Tahukah kalian, bahwa sebelum Indonesia merdeka, di Kalimantan telah ada sistem republik. Inilah kisah negeri Lan Fang di Kalimantan Barat yang pernah berdiri pada zaman penjajahan Belanda.
Lan Fang merupakan Kongsi atau perkumpulan Tionghoa yang ada di Nusantara, tepatnya di Kalimantan Barat, yang eksis, pada kisaran tahun 1777-1884. Secara harafiah, Kongsi Lan Fang dapat diartikan sebagai perkumpulan atau persekutuan usaha “bunga anggrek”. Kongsi Lan Fang diperkirakan berumur 1 abad atau kurang lebih 107 tahun.
Buku ini merupakan karya Prof. Yuan Bingling, seorang sinolog Universitas Fudan, yang merupakan universitas terkemuka yang berpusat di Shanghai, Tiongkok. Sinolog adalah sebuah studi tentang Tiongkok dan topik Tionghoa.
Selain itu, para penambang juga bertikai dengan para pengawas pertambangan, yang tidak lain adalah Suku Dayak, sebagai penduduk lokal.
Hal ini semakin memantik amarah dari Kesultanan Sambas. Sultan Umar Aqamaddin II lalu mengirim pasukan ke tempat para kongsi-kongsi.
Belum sempat terjadi pertempuran, pihak kongsi ketakutan dan akhirnya menyerah. Tidak hanya itu, konflik juga terjadi antara sesama kongsi penambang.
Pada tahun 1774, terjadi pertikaian antara 2 kongsi besar tadi, yaitu Kongsi Thai Kong dan Lan Fang.
Pertikaian itu dimenangkan oleh Kongsi Thai Kong, yang membuat Kongsi Lan Fang saat itu bubar.
Lo Fang Pak adalah pemuka dari kalangan orang Hakka atau lebih dikenal dengan orang Khek, pada tahun 1775, berkunjung ke daerah kongsi di wilayah Kesultanan Sambas.
Setahun kemudian, pasca kedatangan Lo Fang Pak, jumlah kongsi bertambah, menjadi 14. Dimana 12 kongsi berada di bawah Kesultanan Sambas yang berpusat di Monteraduk dan 2 kongsi di bawah Panembahan Mempawah yang berpusat di Mandor.
Dan, kemudian, 14 kongsi tersebut bergabung dalam satu wadah lembaga, yang dikenal dengan nama “Hee Soon”, dimana Lo Fang Pak sebagai penggagas sekaligus menjadi pemimpin.
Tujuannya adalah untuk mempererat hubungan antara sesama kongsi guna menghindari pertikaian, seperti yang terjadi sebelumnya. Hal ini beriringan dengan bangkitnya Kongsi Lan Fang, yang sebelumnya sempat bubar, Lo Fang Pak juga menjadi ketua kongsinya.
Setelah berkahirnya Lan Fang, para buruh tambang yang selamat banyak melarikan diri ke daerah Singapura, Singkawang, Jawa dan Sumatera dan membentuk komunitas yang baru.
Penyebutan republik untuk Lan Fang masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Interpretasi penyebutan republik untuk Lan Fang, salah satunya adalah karena sistem pemilihan di Lan Fang kala itu disebut sangat demokratis.
Jika mengacu pada pengertian kata Republik, Republik adalah sitem pemerintahan dari sebuah negara. Dan, negara sendiri adalah wilayah merdeka dan berdaulat. Sedangkan Lan Fang kala itu berada di bawah Kesultanan dan hanya diberi otonomi khusus. Nah, bagiamana pendapat teman-teman? Silakan berikan komentar.
Lan Fang merupakan Kongsi atau perkumpulan Tionghoa yang ada di Nusantara, tepatnya di Kalimantan Barat, yang eksis, pada kisaran tahun 1777-1884. Secara harafiah, Kongsi Lan Fang dapat diartikan sebagai perkumpulan atau persekutuan usaha “bunga anggrek”. Kongsi Lan Fang diperkirakan berumur 1 abad atau kurang lebih 107 tahun.
Sumber Sejarah
Banyak sekali sumber yang memuat tentang informasi Kongsi Lang Fang ini, salah satu yang populer adalah buku Chinese Democracies: A Study of the Kongsis of West Borneo.Buku ini merupakan karya Prof. Yuan Bingling, seorang sinolog Universitas Fudan, yang merupakan universitas terkemuka yang berpusat di Shanghai, Tiongkok. Sinolog adalah sebuah studi tentang Tiongkok dan topik Tionghoa.
TONTON INI BAGI YANG MALAS BACA JIKA INGIN LEBIH MEMAHAMI SEJARAH REPUBLIK LAN FANG
Pertambangan Emas
Cerita Lan Fang berawal dari aktifitas pertambangan emas yang dikerjakan oleh orang-orang China yang beroperasi di wilayah barat Pulau Kalimantan.
Berdasarkan penelusuran kami di laman Wikipedia, kedatangan orang China yang mengerjakan tambang emas kala itu, dimulai sejak tahun 1740an. Mereka pertama kali didatangkan ke pesisir barat Kalimantan, oleh Raja Panembahan Mempawah, yaitu Opu Daeng Manambon, sejumlah 20 orang.
Disusul pada kisaran tahun 1750an, Sultan Abubakar Kamaluddin, yang merupakan Sultan Sambas ke-4, juga mendatangkan para pekerja China untuk menggali tambang-tambang emas, tepatnya di wilayah Monterado, Seminis, dan Lara.
Perkembangan kegiatan usaha bidang pertambangan, membuat Sultas Sambas ke-5, Sultan Umar Aqamaddin II, mendatangkan kembali para pekerja China secara besar-besaran pada kisaran tahun 1764.
Hal ini menambah ekspansi tambang-tambang emas baru di wilayah Kesultanan Sambas.
Dan, pada tahun tersebut, jumlah para penambang ini diperkirakan sudah mencapai belasan ribu orang.
Setelah itu, pada kisaran tahun 1768, karena semakin besarnya jumlah penambang, mereka membentuk kelompok-kelompok usaha, yang kemudian disebut kongsi. Kala itu terbentuklah 8 kongsi yang berada di wilayah Kesultanan Sambas.
Pada kisaran tahun 1770an, jumlah penambang diperkirakan sudah mencapai 20.000 orang, dimana 70%-nya berada di wilayah Kesultanan Sambas dan sisanya di wilayah Panembahan Mempawah.
Karena ramainya penambang di Kesultanan Sambas, akhirnya kongsi di sana bertambah menjadi 10, dan 2 diantaranya merupakan kongsi terbesar, yaitu Kongsi Thai Kong dan Kongsi Lan Fong / Lan Fang.
Pesatnya perkembangan pertambanga dan lika-liku dunia usaha kala itu, turut menimbulkan gesekan dari berbagai pihak yang memiliki kepentingan berbeda-beda, antara Kesultanan, Suku Dayak sebagai masyarakat lokal, dan Para Penambang.
Berdasarkan penelusuran kami di laman Wikipedia, kedatangan orang China yang mengerjakan tambang emas kala itu, dimulai sejak tahun 1740an. Mereka pertama kali didatangkan ke pesisir barat Kalimantan, oleh Raja Panembahan Mempawah, yaitu Opu Daeng Manambon, sejumlah 20 orang.
Disusul pada kisaran tahun 1750an, Sultan Abubakar Kamaluddin, yang merupakan Sultan Sambas ke-4, juga mendatangkan para pekerja China untuk menggali tambang-tambang emas, tepatnya di wilayah Monterado, Seminis, dan Lara.
Perkembangan kegiatan usaha bidang pertambangan, membuat Sultas Sambas ke-5, Sultan Umar Aqamaddin II, mendatangkan kembali para pekerja China secara besar-besaran pada kisaran tahun 1764.
Hal ini menambah ekspansi tambang-tambang emas baru di wilayah Kesultanan Sambas.
Dan, pada tahun tersebut, jumlah para penambang ini diperkirakan sudah mencapai belasan ribu orang.
Setelah itu, pada kisaran tahun 1768, karena semakin besarnya jumlah penambang, mereka membentuk kelompok-kelompok usaha, yang kemudian disebut kongsi. Kala itu terbentuklah 8 kongsi yang berada di wilayah Kesultanan Sambas.
Pada kisaran tahun 1770an, jumlah penambang diperkirakan sudah mencapai 20.000 orang, dimana 70%-nya berada di wilayah Kesultanan Sambas dan sisanya di wilayah Panembahan Mempawah.
Karena ramainya penambang di Kesultanan Sambas, akhirnya kongsi di sana bertambah menjadi 10, dan 2 diantaranya merupakan kongsi terbesar, yaitu Kongsi Thai Kong dan Kongsi Lan Fong / Lan Fang.
Pesatnya perkembangan pertambanga dan lika-liku dunia usaha kala itu, turut menimbulkan gesekan dari berbagai pihak yang memiliki kepentingan berbeda-beda, antara Kesultanan, Suku Dayak sebagai masyarakat lokal, dan Para Penambang.
Pembangkangan
Para penambang disebut pernah mencoba membangkang pada Kesultanan. Bentuk pembangkangan dari para penambang adalah mengurangi upeti yang awalnya 1 kg emas perbulan, menjadi setengah kg emas per bulan.Selain itu, para penambang juga bertikai dengan para pengawas pertambangan, yang tidak lain adalah Suku Dayak, sebagai penduduk lokal.
Hal ini semakin memantik amarah dari Kesultanan Sambas. Sultan Umar Aqamaddin II lalu mengirim pasukan ke tempat para kongsi-kongsi.
Belum sempat terjadi pertempuran, pihak kongsi ketakutan dan akhirnya menyerah. Tidak hanya itu, konflik juga terjadi antara sesama kongsi penambang.
Pada tahun 1774, terjadi pertikaian antara 2 kongsi besar tadi, yaitu Kongsi Thai Kong dan Lan Fang.
Pertikaian itu dimenangkan oleh Kongsi Thai Kong, yang membuat Kongsi Lan Fang saat itu bubar.
Lalu, bagaimana Kongsi Lan Fang dapat bangkit kembali?
Pada tahun yang sama, ketika pertikaian kongsi terjadi, Lo Fang Pak berlabuh di pesisir barat Pulau Kalimantan, tepatnya di wilayah Kesultanan Sambas, pada usianya yang ke 41 tahun.Lo Fang Pak adalah pemuka dari kalangan orang Hakka atau lebih dikenal dengan orang Khek, pada tahun 1775, berkunjung ke daerah kongsi di wilayah Kesultanan Sambas.
Setahun kemudian, pasca kedatangan Lo Fang Pak, jumlah kongsi bertambah, menjadi 14. Dimana 12 kongsi berada di bawah Kesultanan Sambas yang berpusat di Monteraduk dan 2 kongsi di bawah Panembahan Mempawah yang berpusat di Mandor.
Dan, kemudian, 14 kongsi tersebut bergabung dalam satu wadah lembaga, yang dikenal dengan nama “Hee Soon”, dimana Lo Fang Pak sebagai penggagas sekaligus menjadi pemimpin.
Tujuannya adalah untuk mempererat hubungan antara sesama kongsi guna menghindari pertikaian, seperti yang terjadi sebelumnya. Hal ini beriringan dengan bangkitnya Kongsi Lan Fang, yang sebelumnya sempat bubar, Lo Fang Pak juga menjadi ketua kongsinya.
Pemindahan Lokasi
Tahun 1777, Lo Fang Pak memindahkan lokasi Kongsi Lan Fang ke Mandor di bawah Panembahan Mempawah dan tidak lagi di bawah Kesultanan Sambas. Salah satu tujuan Lo Fang Pak adalah untuk menyatukan orang Hakka lainnya yang ada di Mandor.
Setahun kemudian, tahun 1778, terjadi perubahan derajat kekuasaan yang berpengaruh pada aktivitas diplomasi Kongsi Lan Fang.
Syarif Abdurrahman Al Qadri yang awalnya adalah Ketua dari Kampung Pontianak yang berada di Muara Sungai Landak, mengangkat dirinya menjadi Sultan di Kesultanan Pontianak, dan menjadi Sultan Pertama.
Hal ini tentu saja berpengaruh terhadap Kongsi Lan Fang yang pusat aktivitasnya berada di Muara Sungai Landak. Sehingga, meski di bawah naungan Panembahan Mempawah, Lo Fong Pak juga berdiplomasi dengan Sultan Syarif.
Tidak hanya itu, “Hee Soon”, yang merupakan gabungan dari 14 kongsi, diminta untuk ikut dalam serangan tersebut. Lo Fang Pak pun mengirim pasukan untuk membantu Sultan Pontianak kala itu.
Karena dukungan Belanda dan “Hee Soon”, akhirnya Panembahan Mempawah kalah.
Keikutsertaan tersebut, membuat hubungan Lo Fang Pak dengan Sultan Pontianak semakin dekat. Dan, karena itu lah, Lo Fang Pak, diberi perluasan kewenangan atau “otonomi khusus”, namun tetap berada di bawah naungan Kesultanan Pontianak.
Akhirnya, terbentuk lah “Republik Lan Fang” yang berisikan orang Tionghoa yang tergabung dalam “Hee Soon”, dengan 14 kongsi di dalamnya.
Lo Fang Pak pun menjadi pemimpin terpilih dari Republik Lan Fang kala itu.
Lan Fang memasuki tahun kedua sebagai daerah otonomi khusus, tepatnya pada tahun 1793. Dan, 2 tahun kemudian, tepatnya tahun 1795, Lo Fang Pak pun meninggal.
Banyak hal yang terjadi setelah meninggalnya Lo Fang Pak, mulai dari pertempuran dengan orang Dayak, berada di bawah pengaruh Belanda, serta konflik dengan Panembahan Landak.
Tanda-tanda keruntuhan Lan Fang sendiri sudah terlihat pada kisaran tahun 1880, ditandai dengan semakin kuatnya pengaruh Belanda di Kalimantan. Belanda tertarik untuk menguasai kongsi-kongsi pencari emas tersebut.
Tersudut oleh Belanda membuat Liu Asheng, pemimpin Lan Fang terakhir, terpaksa menandatangani perjanjian pengakuan terhadap Belanda di Batavia kala itu.
Hal ini membuat kongsi lain merasa tidak puas dan terus melakukan perlawan terhadap Belanda. Perlawanan tersebut berdampak buruk dan gempuran Belanda menjadi semakin masif.
Puncak akhir dari Lan Fang adalah kematian pemimpin terakhir mereka, Liu Asheng dalam pertempuran melawan Belanda.
Setahun kemudian, tahun 1778, terjadi perubahan derajat kekuasaan yang berpengaruh pada aktivitas diplomasi Kongsi Lan Fang.
Syarif Abdurrahman Al Qadri yang awalnya adalah Ketua dari Kampung Pontianak yang berada di Muara Sungai Landak, mengangkat dirinya menjadi Sultan di Kesultanan Pontianak, dan menjadi Sultan Pertama.
Hal ini tentu saja berpengaruh terhadap Kongsi Lan Fang yang pusat aktivitasnya berada di Muara Sungai Landak. Sehingga, meski di bawah naungan Panembahan Mempawah, Lo Fong Pak juga berdiplomasi dengan Sultan Syarif.
Republik Lan Fang Berdiri
Tahun 1789, Sultan Pontianak yang kala itu mendapat dukungan dari Belanda, melakukan serangan ke Panembahan Mempawah untuk ekspansi wilayah Kesultanan.Tidak hanya itu, “Hee Soon”, yang merupakan gabungan dari 14 kongsi, diminta untuk ikut dalam serangan tersebut. Lo Fang Pak pun mengirim pasukan untuk membantu Sultan Pontianak kala itu.
Karena dukungan Belanda dan “Hee Soon”, akhirnya Panembahan Mempawah kalah.
Keikutsertaan tersebut, membuat hubungan Lo Fang Pak dengan Sultan Pontianak semakin dekat. Dan, karena itu lah, Lo Fang Pak, diberi perluasan kewenangan atau “otonomi khusus”, namun tetap berada di bawah naungan Kesultanan Pontianak.
Akhirnya, terbentuk lah “Republik Lan Fang” yang berisikan orang Tionghoa yang tergabung dalam “Hee Soon”, dengan 14 kongsi di dalamnya.
Lo Fang Pak pun menjadi pemimpin terpilih dari Republik Lan Fang kala itu.
Lan Fang memasuki tahun kedua sebagai daerah otonomi khusus, tepatnya pada tahun 1793. Dan, 2 tahun kemudian, tepatnya tahun 1795, Lo Fang Pak pun meninggal.
Banyak hal yang terjadi setelah meninggalnya Lo Fang Pak, mulai dari pertempuran dengan orang Dayak, berada di bawah pengaruh Belanda, serta konflik dengan Panembahan Landak.
Tanda-tanda keruntuhan Lan Fang sendiri sudah terlihat pada kisaran tahun 1880, ditandai dengan semakin kuatnya pengaruh Belanda di Kalimantan. Belanda tertarik untuk menguasai kongsi-kongsi pencari emas tersebut.
Tersudut oleh Belanda membuat Liu Asheng, pemimpin Lan Fang terakhir, terpaksa menandatangani perjanjian pengakuan terhadap Belanda di Batavia kala itu.
Hal ini membuat kongsi lain merasa tidak puas dan terus melakukan perlawan terhadap Belanda. Perlawanan tersebut berdampak buruk dan gempuran Belanda menjadi semakin masif.
Puncak akhir dari Lan Fang adalah kematian pemimpin terakhir mereka, Liu Asheng dalam pertempuran melawan Belanda.
Runtuhnya Republik Lan Fang
Tahun 1884, tercatat sebagai tahun runtuhnya Kongsi Lan Fang.Setelah berkahirnya Lan Fang, para buruh tambang yang selamat banyak melarikan diri ke daerah Singapura, Singkawang, Jawa dan Sumatera dan membentuk komunitas yang baru.
Penyebutan republik untuk Lan Fang masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Interpretasi penyebutan republik untuk Lan Fang, salah satunya adalah karena sistem pemilihan di Lan Fang kala itu disebut sangat demokratis.
Jika mengacu pada pengertian kata Republik, Republik adalah sitem pemerintahan dari sebuah negara. Dan, negara sendiri adalah wilayah merdeka dan berdaulat. Sedangkan Lan Fang kala itu berada di bawah Kesultanan dan hanya diberi otonomi khusus. Nah, bagiamana pendapat teman-teman? Silakan berikan komentar.

Belum ada Komentar untuk "Republik di Belantara Kalimantan? "
Posting Komentar