Ternyata Orang Utan Memiliki Sejarah Panjang

Kisah Orang Hutan di Tanah Borneo Masa Lalu

Tahun 1630an, merupakan cerita pertama yang terdokumentasikan tentang “orang utan”. Pada saat itu, dr. Jacobus Bontinus, yang merupakan dokter asal Belanda dan pelopor pengobatan tropis, pertama kali memperkenalkan kata “orang utan”. 


Karyanya yang terbit tahun 1631 yaitu "Historiae naturalis et medicae Indiae orientalis", menulis dan memperkenalkan nama “orang utan” ke dalam bahasa barat.

Nama latinnya adalah Pongo pygmaeus, yang di-cap sebagi hewan yang menyerupai manusia.

Bobot tubuh orang utan pun hampir menyerupai manusia. Orang utan jantan bisa mencapai bobot 65 kg sedangkan betina 35 kg.

Bagi orang utan jantan dewasa di Borneo, di wajahnya tampak berkelepak seperti sayap. Kelepak ini sebagai tonjolan ke samping kulit muka, yang berisi jaringan lemak.

Jadi dengan kelepak di pipi, wajah orang utan jadi tampak seram.
Section II

Juni, tahun 1714, ekspedisi ke Kalimantan kembali dilakukan, yang turut berkontribusi pada terkenalnya orang utan.

Kapal Eagle Galley, kapal Inggris, yang dipimpin oleh Kapten Daniel Beeckmman, pada tahun tersebut berlayar ke Kalimantan. Pelayaran ini merupakan tugas ekspedisi dari SErikat Dagang Inggris Kala Itu (EIC).

Pada 29 Juni 1714, kapal ini berlabuh di Banjarmasin, tepatnya di pesisir selatan Kalimantan.

Tujuan dari pelayaran ini adalah untuk membuka kembali perdagangan lada dan produk tropis lainnya, antara Inggris dan Kesultanan Banjarmasin.

Saat berlabuh, Beeckman langsung menyaksikan berbagai hewan khas daerah tropis, seperti monyet, kera, babon.

Namun, yang membuat Beeckman takjub adalah si ”orang utan” atau dalam bahasa lokal disebut ”oran ootan”.

Dalam amatan Beeckman, panjang tubuh orang utan bisa mencapai enam kaki. Mereka berjalan tegak lurus, memiliki lengan yang lebih panjang ketimbang manusia.

Giginya besar, tidak memiliki ekor maupun rambut, kecuali yang tumbuh di daerah tertentu.

Kutipan perkataan Beeckman tentang orang utan, juga tercatat dalam buku “A Voyage to and from the Island of Borneo, in the East Indies”, yang ditulis oleh Chin Yoong Fong, University of Malaya.

“Mereka sangat gesit dan kuat. Mereka akan melempar batu besar, tongkat dan kayu besar ke arah orang yang mengganggunya”, kata Beeckman dalam buku tersebut.

Karena takjub dan rasa penasaran, Beeckman membeli orang utan dari penduduk lokal seharga 6 dolar Spanyol. Dan, orang utan itu menemani Beeckman selama 1 tahun ekspedisi dagangnya di Borneo.
Section III

Selama perjalananya, Beeckman juga menyaksikan kecerdasan dari peliharaanya tersebut.

Beeckman mungkin tertawa saat melihat tingkah lakunya. Pada suatu saat, Beeckman melihat peliharaanya yang tergolong masih kanak-kanak, membuka lemari yang berisi minuman keras.

Kemudian dia meminumnya banyak-banyak. Setelah puas, dia memasukan botol itu kembali dengan hati-hati.

Tidak hanya itu, peliharaanya itu juga bisa marah. Ekspresinya disampaikan dengan mendesah dan menangis. Setelah dibujuk, baru lah ia mau berdamai.
Section IV

Karena keunikan dari hewan ini, banyak negara-negara yang tertarik dengan oran utan.

Tercatat, pada tahun 1776, seekor orang utan betina, pertama kali dikirim ke Belanda untuk dipelihara.

Orang utan itu disimpan di kebun binatang pribadi milik Pangeran Oranye (Willem V).

Namun, sayangnya, mungkin karena bukan habitatnya dan perawatan yang masih amatir kala itu, orang utan tersebut tidak dapat bertahan dan mati.

Meski demikian, orang utan tersebut sudah sempat dianalisis oleh ahli anatomi bernama Petrus Camper.

Catatan lebih lengkap mengenai orang utan ditelaah oleh naturalis asal Inggris Alfred Russel Wallace. Pada Maret 1855, Wallace mengadakan penelitian ke tambang Batubara di Simunjan, Sarawak, Borneo Utara.

Saat di Borneo, Wallace tiba-tiba melihat seekor hewan besar dengan bulu berwarna merah, yang bergantung di dahan dan pergi dari pohon ke pohon.

Hal itu lah yang menjadi pemicu Wallace untuk mulai mencari orang utan untuk diteliti.
Section V

Unik dan berada di luar daerah tropis, membuat orang utan menjadi pemikat bagi negara lain yang tidak memiliki.

Selain itu, orang utan, yang prilakunya sangat mirip dengan manusia, tidak luput juga dari perhatian para ilmuan. Para ahli zoologi, sering mengaitkan primata ini dengan teori Darwin. Hal ini membuat orang utan dan primata lain yang sejenis, menjadi objek penelitian.

Tidak bisa dipungkiri, aktifitas tersebut menjadi ancaman bagi keberadaan orang utan.

Populernya orang utan dapat dikatakan sebagai hal yang kontroversial.

Pada tahun 1991, majalah Warnasari, no 144, pernah menulis bahwa berbagai kebun binatang dari penjuru dunia ingin agar koleksi primata ini bertambah.

Mulai dari penelitian, koleksi kebun binatang, hingga, dagingnya, yang menurut masyarakat tertentu , memiliki khasiat, menjadikan primata ini sasaran perburuan.

Belum lagi kasus pembalakan hutan yang menyebabkan habitat asli orang hutan menjadi terancam.

Oleh karena itu, pada tahun 1931, primata ini masuk dalam kategori dilindungi.

Wildan Yatim, seorang sastrawan terkenal dan juga ahli biologi pernah menulis, “Musuh terbesar mereka ialah manusia”.

Perburuan terus meningkat seiring banyaknya kepentingan yang melibatkan primata tersebut. Dan, pada tahun 2016, status orang utan di Kalimantan telah berpindah, dari “terancam punah” menjadi “kritis terancam punah”.

Status tersebut menyiratkan makna bahwa, kepunahan primata ini sudah di ambang pintu.

Sumber: Historia.id

Belum ada Komentar untuk "Ternyata Orang Utan Memiliki Sejarah Panjang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel