Di Eropa ada Jack And Bean , Di Kalbar Ada Bujang Beji & Bukit Kelam
Bukit Kelam, merupakan Taman Wisata Alam (TWA) yang terkenal, khususnya ni Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Bukit batu dengan tinggi 1.002 mdpl, merupakan ikon wisata di Kabupaten Sintang. Bukit ini berjarak 20 km dari kota Sintang dan 395 km dari Kota Pontianak.
Bukit Kelam menawarkan panorama alam yang indah, seperti pemandangan air terjun, gua-gua alam, dan tebing-tebing terjal.
Seperti kebanyakan daerah dan tempat-tempat unik lainnya, Bukit Kelam juga menyimpan legenda tentang bagaimana bukit ini dapat terbentuk.
Pada jaman dahulu, diceritakan, di Negeri Sintang, hidup 2 orang pemimpin yang merupakan keturunan dewa dan memiliki kesaktian tinggi.
Namun, sayangnya, mereka berdua memiliki sifat yang bertolak belakang.
Karena sifatnya yang seperti itu, Bujang Beji tidak suka jika ada orang yang melebihi kesaktiannya. Hal ini menyebabkan ia kurang disukai dan pengikutnya sedikit.
Mereka berdua sama-sama memiliki mata pencaharian sebagai penangkap ikan, peladang dan berkebun.
Bicara soal menangkap ikan, mereka mempunyai wilayah tangkapan yang berbeda. Bujang Beji dan pengikutnya menguasai sungai di Simpang Kapuas, sedangkan Temenggung Marubai, menguasai Simpang Sungai Melawi.
Karena faktor alam, Sungai di Simpang Melawi lebih banyak dibandingkan dengan Simpang Kapuas. Tidak heran, kalau tangkapan Temenggung Marubai lebih banyak dibandingkan Bujang Beji.
Temenggung Marubai menangkap ikan di sungai Simpang Melawi dengan menggunakan bubu (perangkap ikan) raksasa, dari batang bambu dan menutup sebagian arus sungai dengan batu-batu, sehingga dengan mudah ikan-ikan terperangkap masuk ke dalam bubunya.
Sistem tangkap Temenggung Marubai terbilang lebih berkelanjutan, karena, ketika ikan tertangkap, Temenggung hanya mengambil ikan besar, sedang ikan kecil, dilepaskan kembali. Hal ini menyebabkan ikan di Sungai Melawi, tidak pernah habis dan terus berkembang biak.
Tidak mau kalah dengam hasil, Bujang Beji menangkap ikan di Simpang Kapuas tidak dengan bubu, melainkan dengan tuba atau racun.
Dengan tuba, Bujang Beji mendapat ikan yang lebih banyak dan mengungguli tangkapan Temenggung Marubai untuk beberapa saat.
Sistem tuba atau racun, lambat laun akan menghabiskan ikan di Simpang Kapuas, karena ikan kecil juga terdampak oleh racun tersebut.
Lambat laun, ikan tangkapan Bujang Beji semakin sedikit, sedangkan Temenggung Marubai masih mendapat hasil yang melimpah dan konsisten.
Hal ini tentu saja membuat bujang beji semakin iri dan ia bergumam, “Wah, gawat jika keadaan ini terus dibiarkan!”.
Untuk memuaskan kedengkiannya, Bujang Beji memikirkan cara bagaimana ikan di Simpang Melawi habis. Setelah beberapa lama berpikir, ia pun menemukan sebuah cara yang paling baik, yakni menutup aliran Sungai Melawi dengan batu besar pada hulu Sungai Melawi.
Dengan demikian, Sungai Melawi akan terbendung dan ikan-ikan akan menetap di hulu sungai.
Akhirnya, Bujang Beji memperoleh cara, yaitu dengan mengangkat puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Bujang Beji mendengar suara perempuan tertawa. Ternyata, para dewi di kayangan telah mengawasi gerak-gerik Bujang Beji.
Saat sampai di persimpangan Kapuas-Melawi, ia penasaran dengan wajah para dewi dan melihat ke atas. Namun, belum sempat melihat wajah mereka, Bujang Beji secara tidak sengaja menginjak duri beracun.
Bujang Beji kemudian menanam pohon kumpang mambu yang akan digunakan sebagai jalan untuk mencapai Kayangan dan membinasakan para dewi yang telah menggagalkan rencananya itu.
Beberapa hari setelah itu, pohon yang ditanam tumbuh subur dan tinggi hingga ke langit. Puncaknya tidak terlihat lagi jika dilihat dari bawah.
Sebelum memanjat pohon, Bujang Beji tidak lupa melakukan upacara adat agar usahanya tidak diganggu dan berharap dapat membantunya hingga ke kayangan.
Upacara ada itu disebut Bedarak Begelak, yaitu memberikan makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya.
Namun, sayangnya, dalam upcara terseubt, dia melupakan 2 hewan, sehingga mereka tidak memperoleh sesajian dari Bujang Beji. Hewan itu adalah rayap dan beruang.
Raja Rayap dan Raja Beruang mengadakan pertemuan terkait hal ini. ”Apa yang harus kita lakukan, Raja Beruang?”, tanya Raja Rayap.
”Kita robohkan pohon kumpang mambu itu,” jawab Raja Beruang.
”Bagaimana caranya?” tanya Raja Rayap penasaran.
”Kita beramai-ramai menggerogoti akar pohon itu, ketika Bujang Beji sedang memanjatnya,” jelas Raja Beruang.
Dan, seluruh peserta rapat ini serentak sepakat untuk melakukan hal ini.
Oleh karena jumlah mereka sangat banyak, pohon kumpang mambu yang besar dan tinggi itu pun mulai goyah.
Pada saat Bujang Beji akan mencapai kayangan, tiba-tiba terdengar suara keras yang teramat dahsyat.
Tak lama setelah itu, pohon yang tinggi menjulang bersama Bujang Beji pun terhempas di Sungai Kapuas Hulu, persisi di Danau Luar dan Danau Belidak.
Karena hal ini, Bujang Beji mati seketika akibat peristiwa ini. Maka, selamat lah dewi-dewi kayangan dan Temenggung Marubai terhindar dari niat jahat Bujang Beji.
Menurut cerita, tubuh Bujang Beji diambil dan dibagi-bagi masyarakat sekitar untuk dijadikan jimat kesaktian.
Sementar, puncak bukit Nanga Silat yang dibawa dan terlepas dari pikulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam.

Dan, patahan batu yang digunakan Bujang Beji untuk mencongkel batu sebelumnya, menjelma menjadi Bukit Liut.
Seperti kebanyakan daerah dan tempat-tempat unik lainnya, Bukit Kelam juga menyimpan legenda tentang bagaimana bukit ini dapat terbentuk.
Pada jaman dahulu, diceritakan, di Negeri Sintang, hidup 2 orang pemimpin yang merupakan keturunan dewa dan memiliki kesaktian tinggi.
Namun, sayangnya, mereka berdua memiliki sifat yang bertolak belakang.
Mereka adalah Bujang Beji dan Temenggung Marubai.
Bujang beji dikenal memiliki sifat suka merusak, pendengki dan juga dikenal serakah. Sedangkan Temenggung Marubai, kebalikkannya, karena lebih dikenal murah hati, suka menolong, dan rendah hati.Karena sifatnya yang seperti itu, Bujang Beji tidak suka jika ada orang yang melebihi kesaktiannya. Hal ini menyebabkan ia kurang disukai dan pengikutnya sedikit.
Mereka berdua sama-sama memiliki mata pencaharian sebagai penangkap ikan, peladang dan berkebun.
Bicara soal menangkap ikan, mereka mempunyai wilayah tangkapan yang berbeda. Bujang Beji dan pengikutnya menguasai sungai di Simpang Kapuas, sedangkan Temenggung Marubai, menguasai Simpang Sungai Melawi.
Bagi kalian yang tidak suka membaca, atau susah memahami ketika membaca, di bawah ini ada video dari "Borneo Blog", yang menceritakan secara lengkap mengenai kisah ini.
Karena faktor alam, Sungai di Simpang Melawi lebih banyak dibandingkan dengan Simpang Kapuas. Tidak heran, kalau tangkapan Temenggung Marubai lebih banyak dibandingkan Bujang Beji.
Temenggung Marubai menangkap ikan di sungai Simpang Melawi dengan menggunakan bubu (perangkap ikan) raksasa, dari batang bambu dan menutup sebagian arus sungai dengan batu-batu, sehingga dengan mudah ikan-ikan terperangkap masuk ke dalam bubunya.
Sistem tangkap Temenggung Marubai terbilang lebih berkelanjutan, karena, ketika ikan tertangkap, Temenggung hanya mengambil ikan besar, sedang ikan kecil, dilepaskan kembali. Hal ini menyebabkan ikan di Sungai Melawi, tidak pernah habis dan terus berkembang biak.
Iri dan Dengki
Karena hal tersebut, Bujang Beji pun menjadi iri terhadap apa yang dicapai Temenggung Marubai.Tidak mau kalah dengam hasil, Bujang Beji menangkap ikan di Simpang Kapuas tidak dengan bubu, melainkan dengan tuba atau racun.
Dengan tuba, Bujang Beji mendapat ikan yang lebih banyak dan mengungguli tangkapan Temenggung Marubai untuk beberapa saat.
Sistem tuba atau racun, lambat laun akan menghabiskan ikan di Simpang Kapuas, karena ikan kecil juga terdampak oleh racun tersebut.
Lambat laun, ikan tangkapan Bujang Beji semakin sedikit, sedangkan Temenggung Marubai masih mendapat hasil yang melimpah dan konsisten.
Hal ini tentu saja membuat bujang beji semakin iri dan ia bergumam, “Wah, gawat jika keadaan ini terus dibiarkan!”.
Untuk memuaskan kedengkiannya, Bujang Beji memikirkan cara bagaimana ikan di Simpang Melawi habis. Setelah beberapa lama berpikir, ia pun menemukan sebuah cara yang paling baik, yakni menutup aliran Sungai Melawi dengan batu besar pada hulu Sungai Melawi.
Dengan demikian, Sungai Melawi akan terbendung dan ikan-ikan akan menetap di hulu sungai.
Akhirnya, Bujang Beji memperoleh cara, yaitu dengan mengangkat puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu.
Memikul Bukit & Dewi
Dengan kesaktiannya, ia memikul bukit batu yang besar itu. Karena jaraknya jauh ke hulu Sungai Melawi, ia mengikat batu tersebut dengan 7 lembar daun ilalang.Di tengah perjalanan, tiba-tiba Bujang Beji mendengar suara perempuan tertawa. Ternyata, para dewi di kayangan telah mengawasi gerak-gerik Bujang Beji.
Saat sampai di persimpangan Kapuas-Melawi, ia penasaran dengan wajah para dewi dan melihat ke atas. Namun, belum sempat melihat wajah mereka, Bujang Beji secara tidak sengaja menginjak duri beracun.
”Aduuuhhh... !”
jerit Bujang Beji sambil berjingkrat-jingkrat menahan rasa sakit.
Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang yang digunakan untuk mengikat puncak bukit terputus. Akibatnya, puncak bukit batu terjatuh dan tenggelam di sebuah rantau yang disebut Jetak.
Karena hal ini, Bujang Beji melihat para dewi dengan tatap marah dan berkata, “Awas kalian, tunggu saja pembalasan ku!” kata Bujang Beji sambil menghentakkan kakinya yang terkena juri.
“Enyah lah kau duri”, seru Bujang Beji marah.
Melihat batunya yang terbenam di rantau atau jetak, Bujang Beji mengambil batu yang bentuknya memanjang untuk mencongkel batu tersebut.
Karena sudah melekat pada jetak tersebut, batu panjang tersebut patah, Akhirnya Bujang Beji gagal memindahkan puncak Bukit Batu dari Nanga Silat untuk menutup hulu Sungai Melawi.
Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang yang digunakan untuk mengikat puncak bukit terputus. Akibatnya, puncak bukit batu terjatuh dan tenggelam di sebuah rantau yang disebut Jetak.
Karena hal ini, Bujang Beji melihat para dewi dengan tatap marah dan berkata, “Awas kalian, tunggu saja pembalasan ku!” kata Bujang Beji sambil menghentakkan kakinya yang terkena juri.
“Enyah lah kau duri”, seru Bujang Beji marah.
Melihat batunya yang terbenam di rantau atau jetak, Bujang Beji mengambil batu yang bentuknya memanjang untuk mencongkel batu tersebut.
Karena sudah melekat pada jetak tersebut, batu panjang tersebut patah, Akhirnya Bujang Beji gagal memindahkan puncak Bukit Batu dari Nanga Silat untuk menutup hulu Sungai Melawi.
Balas Dendam
Bertubi-tubi cobaan yang diperoleh Bujang Beji yang membuat ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam pada dewi-dewi yang menertawakannya.Bujang Beji kemudian menanam pohon kumpang mambu yang akan digunakan sebagai jalan untuk mencapai Kayangan dan membinasakan para dewi yang telah menggagalkan rencananya itu.
Beberapa hari setelah itu, pohon yang ditanam tumbuh subur dan tinggi hingga ke langit. Puncaknya tidak terlihat lagi jika dilihat dari bawah.
Sebelum memanjat pohon, Bujang Beji tidak lupa melakukan upacara adat agar usahanya tidak diganggu dan berharap dapat membantunya hingga ke kayangan.
Upacara ada itu disebut Bedarak Begelak, yaitu memberikan makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya.
Namun, sayangnya, dalam upcara terseubt, dia melupakan 2 hewan, sehingga mereka tidak memperoleh sesajian dari Bujang Beji. Hewan itu adalah rayap dan beruang.
Pertemuan Rayap dan Beruang
Akibat tidak memperoleh sesajian tersebut, mereka murka dan merasa diremehkan oleh Bujang Beji. Mereka kemudian bermusyawarah untuk mufakat bagaimana cara menggagalkan niat Bujang Beji agar tidak mencapai kayangan.Raja Rayap dan Raja Beruang mengadakan pertemuan terkait hal ini. ”Apa yang harus kita lakukan, Raja Beruang?”, tanya Raja Rayap.
”Kita robohkan pohon kumpang mambu itu,” jawab Raja Beruang.
”Bagaimana caranya?” tanya Raja Rayap penasaran.
”Kita beramai-ramai menggerogoti akar pohon itu, ketika Bujang Beji sedang memanjatnya,” jelas Raja Beruang.
Dan, seluruh peserta rapat ini serentak sepakat untuk melakukan hal ini.
Pembalasan Rayap dan Beruang
Tiba lah hari ketika Bujang Beji memanjat pohon itu. Dan, sesuai hasil rapat, kelompok rayap dan beruang berbondong-bondong datang dan menggerogoti akar pohon tersebut.Oleh karena jumlah mereka sangat banyak, pohon kumpang mambu yang besar dan tinggi itu pun mulai goyah.
Pada saat Bujang Beji akan mencapai kayangan, tiba-tiba terdengar suara keras yang teramat dahsyat.
”Kretak... Kretak... Kretak... !!!”Beberapa saat kemudian, pohon Kumpang Mambu setinggi langit itu pun roboh bersama dengan Bujang Beji.
”Tolooong... ! Tolooong.... !”
Terdengar suara Bujang Beji menjerit meminta tolong.
Tak lama setelah itu, pohon yang tinggi menjulang bersama Bujang Beji pun terhempas di Sungai Kapuas Hulu, persisi di Danau Luar dan Danau Belidak.
Karena hal ini, Bujang Beji mati seketika akibat peristiwa ini. Maka, selamat lah dewi-dewi kayangan dan Temenggung Marubai terhindar dari niat jahat Bujang Beji.
Menurut cerita, tubuh Bujang Beji diambil dan dibagi-bagi masyarakat sekitar untuk dijadikan jimat kesaktian.
Sementar, puncak bukit Nanga Silat yang dibawa dan terlepas dari pikulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam.

Dan, patahan batu yang digunakan Bujang Beji untuk mencongkel batu sebelumnya, menjelma menjadi Bukit Liut.

Belum ada Komentar untuk "Di Eropa ada Jack And Bean , Di Kalbar Ada Bujang Beji & Bukit Kelam"
Posting Komentar