Sejarah Yang Tertimbun, Kerajaan Kuno di Barat Kalimantan
Pernah mendengar kata Limunan atau Bunian atau juga Halimunan?
Kalimantan memang memiliki segudang kisah misteri dan sejarah yang masih misteri namun kali ini Borneo Folk menghadirkan sejarah kerajaan Bu-Ni. Yuk simak bagaimana sejarahnya!

Kerajaan Bu-ni, merupakan kerajaan kuno yang pernah dicatat dalam sejarah. Sumber Tiongkok pada masa Dinasti Song, pada kisaran tahun 920-1279, pernah mencatat kerjaan ini.
Sejarah Dinasti Song, mendeskripsikan kerajaan itu terletak di laut barat daya. Menurut catatan ini, jaraknya sekitar 45 hari dari Jawa, 40 hari dari San-bo-zhai atau Palembang dan dari Campa atau kerjaan islam pertama di Asia Tenggara, sekitar 30 hari.Bagi kalian yang tidak suka membaca, atau susah memahami ketika membaca, Mari Simak video dari "Borneo Blog", yang menceritakan secara lengkap mengenai kisah ini.
Hal ini juga diungkap oleh salah satu sejarahwan asal Belanda, bernama Willem Pieter Groeneveldt, dalam bukunya yang berjudul "Nusantara dalam Catatan Tionghoa", yang menulis bahwa kerjaan tersebut letaknya di pantai barat Kalimantan.
Rajanya bernama Maha Mosa yang dikenal sombong dan tidak tahu sopan santun.
Suatu hari, utusan dari kekaisaran Tiongkok datang menghadap Maha Mosa. Ia disuruh kaisar mengirim upeti. Namun, ia beralasan baru saja dijarah Kerajaan Sulu, sehingga mereka sedang lemah dan miskin. Tak mampu mereka memberi persembahan kepada kaisar di Tiongkok.
Utusan itu berkata, “Jawa telah mengakui dirinya sebagai bawahan dan membawa upeti. Mengapa engkau takut pada Jawa, tetapi tidak pada kekaisaran langit?”
Karena hal ini, Maha Mosa menunjuk utusan untuk membawa surat dan upeti yang berisi, mahkota bangau, penyu hidup, merak, kapur barus berbentuk butiran kecil, kamper bubuk, kain dari barat, dan berbagai barang lainnya.
Sebelum Mah Mosa, raja pertama kerajaan ini bernama Hiang-ta, yang menjabat pada kisaran tahun 970an.
Pada tahun 977, Raja Hiang-ta mengirim 3 utusan untuk membawa upeti ke kekaisaran Tiongkok. Upeti tersebut berisi kati kamper dalam potongan besar, delapan kati kamper kelas dua, sebelas kati kamper kelas tiga, 20 kati kamper butiran kecil, dan 20 kati kamper kualitas terendah.
Satu kati kira-kira sama beratnya dengan 0,8 kg sekarang.
Tidak lupa utusan tersebut juga berkata “Semoga kaisar hidup 10.000 tahun dan Sri Baginda tak menolak keramahan sederhana dari negara kami yang kecil ini”.
Itulah adalah kali pertama mereka datang ke Tiongkok. Dulunya belum ada utusan dari kerajaan Bu-Ni yang dikirim ke sana. “Karenanya tidak pernah disebutkan dalam sejarah,” tulis catatan itu.
Dalam catatan sejarah Dinasti Song, Bu-ni merupakan kerajaan yang dikelilingi dinding dari papan. Penduduknya diperkiran lebih dari 10.000 jiwa.
Selain wilayah kotanya sendiri, rajanya juga menguasai 14 tempat lainnya di sekitar kerjaan.
Meski berstatus kerajaan, namun kota kerajaan Bu-ni, rata-rata rumah warganya beratap rumput. Sedangkan tempat tinggal sang raja, beratap daun palem.
Singgasana raja seperti dipan dan dibuat dari anyaman tali. Nah, sedangkan saat bepergian, raja dibawa menggunakan selembari kain lebar, yang mirip seperti hammock.
100 tahun kemudian, kerajaan Bu-Ni, dicatat kembali mengirim upeti ke kekaisaran Tiongkok. Utusannya bernama Sri Ma-ja.
Setelah itu, catatan tentang kerajaan ini tidak ada lagi.
Baru lah pada masa Dinasti Ming, kisaran tahun 1368-1643, eksistensi kerajaan ini dilanjutkan oleh Maha Mosa.
35 tahun berlalu setelah utusan Maha Mosa dikirim, raja Bu-ni telah berganti. Penggantinya bernama Raja Maraja Ka-la memberangkatkan utusannya. Pada masa raja Maraja Ka-la, hungbungan Bu-ni dan Tiongkok sangat baik, hingga sang raja sendiri pernah datang menghadap kaisar.
Raja juga sempat berkata kepada kaisar, “Orang-orang tua di negara hamba semuanya mengatakan ini disebabkan oleh perlindungan Kaisar yang suci”.
Setelah raja wafat, putranya, Xia-wang, naik takhta. Raja yang baru ini sempat minta bantuan kepada kaisar. Mereka ingin bebas dari kewajiban membayar upeti sebanyak 40 kati kapur barus kepada Jawa. Upeti itu untuk selanjutnya akan dikirim ke istana kaisar. Sepertinya permohonan itu dikabulkan.
Hingga tahun 1425, hubungan antar Bu-ni dan Tiongkok masih terjaga. Namun, kian lama, kian meredup, setelah 1 abad kemudian.
Sejarah Dinasti Ming pernah mencatat, kedatangan orang Frank atau Portugis pada Tarik Zhengde pada tahun 1506-1521. Kedatang mereka dinilai memberikan pengaruh buruk yang disebarkan melalui kekerasan dan menyebabkan berhentinya pengiriman upeti ke Kaisar kala itu.
Selain itu, terjadi perang saudara dalam tubuh kerajaan Bu-ni. Penyebabnya adalah kerjaan kehilangan penerus. Hal ini memicu terjadinya peperangan antar keluarga guna memperebutkan singgasana raja, dan, pada akhirnya mereka yang bertikai terbunuh.
Akhir peperangan tersebut meninggalkan seorang putri raja, yang kemudian diangkat menjadi ratu.
Diketahui, sejak saat itu, tidak ada lagi utusan ke Tiongkok. Kendati demikian, hubungan dagang masih berjalan.
Meski pernah tercatat dalam sejarah, namun Bu-ni yang terdapat di barat Kalimantan ini, belum dapat dipastikan letak kerajaannya secara tepat.
“Deskripsi negara ini tidak jelas dan tak bisa digunakan untuk menentukan lokasi sebenarnya,” kata Groeneveldt.
Seorang sejarahwan asal Indonesia, prof. Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakretagama menghubungkan catatan ini dengan negara Brunei sekarang. Beliau menulis, “Bu-ni biasa disamakan dengan Brunei, di bagian barat Kalimantan”.
Seperti yang disebutkan di Nagarakretagama, Brunai tau Barune masuk ke dalam wilayah Pulau Tanjungpura kala itu dan telah terperngaruh oleh Kerajaan Majapahit.
Dalam Masa Akhir Majapahit, arkeolog Hasan Djafar menyebut letak Tanjungpura sebenarnya belum bisa dipastikan. “Namun demikian, oleh para sarjana dihubungkan dengan daerah di Kalimantan,” kata dia.
Belum ada Komentar untuk "Sejarah Yang Tertimbun, Kerajaan Kuno di Barat Kalimantan"
Posting Komentar