Ada Cerita Mistis Berkaitan Ibu Kota Baru Indonesia

Tepat tanggal 26 Agustus tahun 2019 lalu, Presiden Joko Widodo mengumumkan rencana pemindahan ibu kota ke Kabupaten Penjaman Paser Utara, Kalimantan Timur. 



Sontak, mendengar berita itu di TV, Musa, Ketua Lembaga Adat Sukur Paser, bergegas menemui para tetua adat Paser. Namun, kala itu, Musa kaget melihat reaksi para tetua suku, karena tidak tergambar raut wajah kaget melihat berita itu.

Usut punya usut, ternyata para tetua adat sudah mengetahui hal ini, melalui ramalan lisan turun temurun. Ramalan tersebut disampaikan melalui sempuri dan mengatakan bahwa wilayah Nagri Paser suatu saat nanti akan menjadi ibu kota yang besar dan makmur.

Menurut seorang sejarahwan Suku Paser, sekaligus Ketua Laskar Pertahanan Adat Suku Paser, Paidah Riansyah, mengatakan bahwa nubuat itu muncul pada periode “Sie Penggawa” atau periode Sembilan Penggawa pada kisaran tahun 1300an. 

Bagi kalian yang tidak suka membaca, atau susah memahami ketika membaca, di bawah ini ada video dari "Borneo Blog", yang menceritakan secara lengkap mengenai kisah ini.



Sembilan Penggawa, adalah masyarakat adat yang memimpin kerjaan pada sistem kepunggawaan.

Sistem ini merupakan peralihan dari sistem kerajaan. Perubahaan sistem ini dimulai ketika wafatnya Ratu Aji Mubar Mayang, yang merupakan raja terkahir Kerajaan Tuban Layar, pada kisaran tahun 1305-1382.

Sembilan Penggawa berkuasa kurang lebih 100 tahun sebelum akhirnya terjadi perselisihan diantara mereka. Perselisihan tersebut membuat salah satu Penggawa mengusulkan untuk mencari raja baru.

Misi pencarian raja baru ini pun dimulai dan dilaksanakan oleh 8 dari 9 Penggawa. Mereka memutuskan pergi ke negeri timur jauh, tepatnya ke arah daratan China. Namun, dalam perjalanan, mereka berhenti di sebuah pulau di tengah samudera.

Paidah Menuturkan, sebagaimana yang ada dalam sempuri, bahwa pulau itu aneh dan gaib. Penghuninya disebut suku Malimunan.

Setibanya di pulau itu, Suku Malimunan menyarankan mereka untuk kembali ke Nagri Paser. Suku Malimunan berkata bahwa raja yang mereka cari tidak ada di China, melainkan akan lahir di Paser sendiri.

Atas saran dari Suku Malimunan itu, para penggawa pun kembali. Sebelum mereka pergi, Suku Malimunan memberikan mereka beberapa benda, diantaranya sebuah gong, peti batu berisi pusaka dan 8 buah bingkisan.

Pesan dari Suku Malimun, 8 bingkisan atau dalam bahasa sempuri ‘Walu Belingis’ itu jangan dibuka sebelum tiba di Paser. Namun, dalam perjalanan, penggawa yang bernama Seranta penasaran dan mebuka bingkisan itu dibuka satu persatu.

Bingkisan terakhir lah yang dibuka di Nagri Paser, tepatnya di Teluk Balikpapan.

Delapan bingkisan itu dipesan agar jangan dibuka sebelum tiba di Paser. “Dalam bahasa sempuri, delapan bingkisan itu disebut ‘Walu Belingis’.

Masyarakat Paser percaya, jika semua bingkisan itu dibuka semua di Nagri Paser, wilayah itu akan menjadi besar dan terkenal hingga ke seluruh dunia.

Namun, meski demikian, para tetua suku dan masyarakat adat Paser tetap percaya, bahwa satu bingkisan itu akan membuat Nagri Paser menjadi negeri yang besar dan terkenal suatu saat nanti.

Kepercayaan ini masih dipegang teguh selama ratusan tahun dan diabadikan melalui cerita sempuri turun temurun.

“Nah mungkin itu yang disangkutpautkan oleh masyarakat dengan ibu kota RI yang sekarang. Kalau Anda berkunjung ke tetua-tetua kami, itu bukan sesuatu yang dikarang-karang memang itu disampaikan secara turun temurun. Jadi memang para tetua sudah menubuatkan nanti di akhir akan ada peristiwa besar di Nagri Paser. Wallahu alam,” pungkas Paidah.

Hingga kini gong yang diberi nama gong karampungen dan peti batu yang diberi nama peti bendalatana, dan peralatan kerajaan yang diberikan Suku Malimunan masih tersimpan di Komang (Kecamatan Muara Komang, Kabupaten Paser),” terang Paidah.

Soal pemindahan ibu kota ke Penajam Paser Utara masyarakat adat Suku Paser pada prinsipnya setuju dan mendukung. Hanya saja perlu komunikasi terlebih dahulu antara pemerintah dan masyarakat adat Suku Paser agar ke depan setelah ibu kota berdiri bisa aman dan kondusif.

Selama ini menurut Musa perhatian pemerintah kepada masyarakat adat selalu dinomorduakan. Oleh sebab itu sebelum ibu kota pindah Musa berharap agar keinginan masyarakat adat untuk memiliki hutan adat bisa untuk dipenuhi.

Permintaan soal hutan adat ini memang tertuang dalam maklumat hasil Kongres Masyarakat Adat Paser. Dalam Maklumat itu ada beberapa poin rekomendasi yang dimintakan kepada pemerintah. Di antaranya Masyarakat Adat Suku Paser meminta kepada Presiden untuk segera mengesahkan Undang-undang pengakuan dan perlindungan adat dan juga meminta kepada pemerintah pusat dan daerah untuk segera memfasilitasi pemetaan wilayah adat di Penajam Paser Utara terutama di daerah calon ibu kota negara.

Belum ada Komentar untuk "Ada Cerita Mistis Berkaitan Ibu Kota Baru Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel